Bismillah
Terkadang hidup ini memang harus dinikmati (baca:dilalui) dengan tidak tidur, hanya demi deadline. Ada banyak sekali orang yang lembur ketika kita sedang tidur. Entah karena tugas kuliah, pekerjaan, sampai sesuatu yang menegangkan seperti sedang menunggu istri yang akan melahirkan. Terlepas dari segala sebab lembur kita, sebenarnya Rasul melarang seseorang (yang tak punya alasan jelas) untuk lembur. Seyogyanya kita sudah tidur setelah sholat Isya.
Tapi, djaman Rasul dulu mungkin tak sekompleks sekarang. Perang jaman dahulu adalah perang di mana malam tak boleh sepi. Demikian pula sekarang, harus ada orang yang tak tidur ketika orang lain sedang tidur. Jaman sekarang adalah jaman dahulu ditambah suasana perang. Sederhana bukan?
Yang sebenarnya tak boleh dijadikan gaya hidup adalah lembur yang tak berdasar. Lembur (atau menurut Haji Roma Irama disebut dengan begadang) bukanlah sesuatu yang jadi tujuan kalau alasannya adalah hal2 makruh seperti bermain atau mengobrol tak jelas.
Minuman yang menjadi andalan kala lembur biasanya adalah kopi. Sebenarnya tidak kopi saja yang menjadi minuman pamungkas, tapi juga beberapa minuman penambah tenaga lain yang dijual bebas di pasaran. Inti dari minuman2 itu adlah dopping agar mata kita terbuka lebih lama, pikiran tetap sadar, walau kadang2 jantung kita berdebar makin kencang (mungkin karena adrenalin yang dihasilkan).
Saya mulai meninggalkan kebiasaan lembur ketika mulai berhenti minum kopi (kafein). Alasannya sederhana: kesehatan.
Biasanya tidak akan berdampak ketika baru sesekali minum, tapi muingkin akan terasa ketika umur sudah twenty something. Saya berhenti minum kopi tepat tanggal 16 Februari tahun ini. Kita akan lihat sejauh apa saya bertahan, dengan kebiasaan lembur yang sulit dilepas.