Bismillah
Hari ini saya bercakap2 dengan dua orang teman, di dua tempat terpisah, dan dalam waktu yang tak sama pula. Pagi harinya, teman saya, sebut saja W, anak seorang dosen yang sangat bersahaja. Nah, barusan, dengan D, teman saya kuliah tapi tidak satu kelas.
Kisah pertama
“W, emang resolusi kamu tahun 2008 apa?” tanya saya.
“Yaah… Mudah2an Indonesia bisa lebih baik ajah.. “
Saya langsung terdiam, baru pertama kali ini saya dengar ada orang punya resolusi yang enggak ada kata “saya”-nya. Biasanya kan, “saya pengen…saya harus jadi..” dan saya-saya yang lain. Haibat betul teman saya ini!
“Emang kamu kalo di rumah waktu luang ngapain aja sih W?” tanya saya lagi.
“Kadang bantu Ibuku, kadang juga belajar, baca ebook, nyoba2 Linux”
Buset dah, pikir saya. Haibat betul si W ini. Saya tanya lagi “kalo menurut kamu parameter kesuksesan itu apa?”
“Hm…bisa berguna buat lingkungan deh..”
“Kamu kok kayak rahib sih? Emang kamu ga pengen beli apa kek gitu? PSP mungkin? *pamer nih ceritanya*”
“Hehehe.. Dibeliin pohon aja, terus ditanem”
Saya langsung diem. Saya memang jarang bercakap2 dengan dia. Tak disangka, percakapan hari ini membuat saya tersentuh.
Kisah kedua
Kali ini via YM, teman saya itu langsung memberikan sebuah link (yang saya tahu situs atau blognya dia, dari nama situsnya. Sebetulnya saya baru tahu dia punya blog. Ah, teman macam apa saya ini??). Saya langsung klik. Crot, dan terbukalah sebuah web sederhana (ceritanya dia enggak pake CMS-CMSan, langsung coding dari scratch, persis kayak saya dulu waktu belajar PHP).
Dari semua postingannya, saya pikir si D ini orangnya periang, eh ternyata mellow2 juga. Di blognya ditulis harapan2 dia, impian2 dia, terus kisah dia bikin lagu, hobinya, dan seterusnya. Yang membuat saya agak makjleb, ternyata saya hanya tahu sedikit dari dia. Saya enggak tahu dia punya mimpi bikin band (bahkan saya tidak tahu bahwa dia bisa memainkan banyak alat musik). Saya lagi2 bergumam, “saya ini teman macam apa? yang enggak pernah perhatian sama teman, bahkan saya tidak bisa turut mendoakan kesuksesan mereka (karena tidak tahu harapan2nya).
Ah, mulai besok, setiap ketemu temen lama, saya akan tanya “impian kamu apa sih? Sini biar aku bantu ngedoain…”